Pembangunan Tol Cisumdawu

Tol Cisumdawu
Rencana pembangunan jalan tol Cisumdawu (Cileunyi –Sumedang Dawuan) direncanakan sepanjang 60,11 Km sebagai upaya Pemerintah Pusat dan Propinsi Jawa Barat untuk  pengembangan wilayah Jawa Barat bagian tengah dan timur,  khususnya mendukung PKN Cirebon (Wilayah Jawa Barat bagian Tengah dan Timur,rencana pembanguan Pelabuhan Cirebon dan Bandara Internasional Kertajati di Majalengka), terbagi dalam 6(enam) segmen yaitu :
1.      Cileunyi–Tanjungsari : 9,80 Km
2.      Tanjungsari–Sumedang : 17,51 Km
3.      Sumedang-Cimalaka : 3,73  Km
4.      Cimalaka-Legok : 6,96  Km
5.      Legok-Ujungjaya : 16,35 Km
6.      Ujungjaya-Kertajati : 4,00  Km
Kebutuhan lahan untuk tol Cisumdawu dengan asumsi Lebar ruang milik jalan (rumija) + 60m dan panjang + 60,11 km adalah : 360,60 ha, dimana kondisi lahan yang terlewati Tol Cisundawu adalah sebagian besar berupa lahan tegalan/kebun/sawah dan sebagian kecil perkampungan.
Kebijakan pengembangan wilayah Kabupaten Sumedang dalam mendukung Jalan Tol Cisumdawu adalah :Pengembangan lokasi  perumahan di daerah Sukasari, Tanjungsari, Pamulihan, Rancakalong dan sebagian CimanggungPengembangan kawasan industri di daerah Ujungjaya Pengembangan kawasan pertanian dan pariwisata. Pembangunan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) dan Tol Cikampek-Palimanan (Cikapali) yang tengah berjalan diminta sudah tuntas dan beroperasi sebelum akhir tahun 2017. Permintaan ini terkait dengan operasional Bandara Internasional Kertajati, Majalengka.  Kedua tol tersebut akan menjadi akses utama bandara yang tak jauh dari perbatasan Jateng itu baik dari utara maupun selatan.  Hal tersebut dikatakan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan. "Pembangunan Cisumdawu dan Cikapali ini sejalan dengan pembangunan Kertajati.  Kalau  bandara sudah beres, sementara tol belum beres juga, celaka kan," jelasnya.Untuk kepentingan tersebut, pihaknya bakal melakukan koordinasi dengan Kemenko Perekonomian dan kementerian terkait. Pemprov Jabar menekankan urgensi kedua jalan tol itu bagi bandara modern itu. "Jika bisa, beresnya bersamaan. Lebih baik, ketika bandara diresmikan antara akhir 2017 atau paling telat awal 2018, tolnya sudah beroperasi terlebih dahulu. Kalau tidak, tidak akan match, itu yang akan kita bahas dengan Menko," jelasnya. Dalam kaitan itu, Pemprov siap mendorong percepatan pembangunan tol tersebut. Di antaranya Cisumdawu dengan menyelesaikan ketersediaan lahan di Seksi I. Pihaknya pun menawarkan swasta untuk terlibat. Seksi I Cisumdawu membentang antara Cileunyi-Rancakalong, Sumedang. Pemprov membantu memfasilitasi penyelesaian pembebasan lahan Seksi I karena merupakan trase vital ke Sumedang. Jalan Tol Cisumdawu adalah sebuah jalan tol sepanjang 60 kilometer bagian dari Jalan Tol Trans Jawa yang berada di Jawa Barat menghubungkan daerah Cileunyi - Sumedang - Dawuan atau Jalan Tol Padaleunyi dengan Jalan Tol Palimanan-Kanci keseluruhan mempergunakan lahan seluas 825 ha.
Pada 29 November 2011, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto bersama Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan melakukan peletakan batu pertama proyek jalan tol ini. Peletakan batu pertama ini dilakukan di interchange Rancakalong Desa Citali, Kelurahan Pamulihan, Kabupaten Sumedang.  Kemudian pada 25 Oktober 2013, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar meninjau proyek pembangunan jalan tol ini. Deddy berharap tol ini akan selesai pada tahun 2016 mendatang, bersamaan dengan proses pembangunan Bandar Udara Internasional Kertajati di Majalengka
Pembangunan jalan tol ini akan dibagi menjadi 6 tahap, yakni

  1. tahapan Cileunyi–Tanjungsari sepanjang 12.0 km,
  2. tahapan Tanjungsari–Sumedang sepanjang 17.51 km,
  3. tahapanan Sumedang-Cimalaka sepanjang 3,73 km,
  4. tahapan Cimalaka-Legok sepanjang 6,96 km,
  5. tahapan Legok ke Ujungjaya 16,35 km , dan
  6. tahapan Ujungjaya ke Kertajati 4.0 km.

Jalan ini akan mempunyai 5 tempat pertukaran jalan antara lain akan berada di Cikopo, Kalijati, Subang, Cikedung dan Kertajati. Tapak pembangunan Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) mengalami perubahan di Seksi II antara Rancakalong-Sumedang. Pangkalnya, ancaman longsor di jalur  yang sebelumnya akan dibangun.
Hal tersebut dikatakan Wagub Jabar, Deddy Mizwar di Bandung, kemarin. “Ada pergeseran sepanjang 2 Km karena ada potensi longsor dalam pengerjaan Tol Cisumdawu,” jelasnya. Menurut dia, pihaknya tak mau ambil resiko. Terlebih, berdasar kajian, langkah tersebut tak terlalu membebani dari segi pembiayaan tol terutama dari sisi kontruksi yang relatif lebih murah.
Lahan yang semula akan digunakan memang dalam proses ganti rugi. Meski demikian, aktor kawakan itu tetap meminta agar persoalan tersebut tetap bisa diselesaikan. Lahan itu bisa dialokasikan untuk peruntukan lainnya. “Kalau perlu dilunasi, dan lahannya tetap menjadi milik kita, apalagi kita mempunyai rencana membangun rel KA di pinggir Jalan Tol Cisumdawu,” katanya.
Meski demikian, perubahan itu tak mengganggu pembangunan terowongan sepanjang 500 meter yang mewarnai jalur Seksi II Tol Cisumdawu sepanjang 17,51 Km tersebut. Keberadaan tol sepanjang 60 Km itu cukup vital karena diproyeksikan sebagai penunjang keberadaan Bandara Internasional Kertajati, Majalengka sebelum dioperasikan pada 2017. Proses pembangunan Tol Cisumdawu mencakup 6 Seksi. Saat ini, tol tersebut tengah dikerjakan guna dapat mengejar target yang sudah ditetapkan. Selain Seksi II, seksi lainnya adalah Seksi I Cileunyi-Rancakalong (9,8 Km), Seksi III Sumedang-Cimalaka (3,75 Km), Seksi IV Cimalaka-Legok (7,2 Km), Seksi V Legok-Ujung Jaya (15,9 Km), dan Seksi VI Ujung Jaya-Dawuan dengan  panjang 4,048 Km.


Hingga saat ini, proyek pembangunan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cidumdawu) masih terkendala. Sejumlah lahan di wilayah yang akan terkena proyek tersebut belum dibebaskan. Di antaranya di Kec. Cileunyi Kab. Bandung dan Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang. Jangankan pembebasan lahan, sosialisasi pun masih belum dilakukan. Sementara untuk wilayah lainnya seperti Rancakalong dan Tanjungsari, Kab. Sumedang sudah sampai proses pembebasan lahan. Proyek tol sepanjang 60,11 km yang melintasi sejumlah kecamatan di Kab. Sumedang ini akan membeikan manfaat. Selain mengatasi kemacetan dan kepadatan kendaraan di jalur nasional Jalan Jatinangor-Pamulihan, juga mengurangi beban kendaraan yang melintasi Jalan Cadas Pangeran. Sayangnya untuk Kec. Cileunyi dan Kec. Jatinangor, yang merupakan pintu gerbang Tol Cisumdawu hingga Kamis (19/9) belum tersentuh sosialisasi. Sedangkan sejumlah titik di wilayah Kab. Sumedang, sudah menyelesaikan pembebasan lahan, seperti Kec. Rancakalong. Camat Rancakalong, H.Y. Karyono menuturkan, pembangunan Tol Cisumdawu dilakukan setelah pembebasan lahan warga beres. “Pembangunan lancar karena tanah milik warga semuanya sudah dibebaskan,” katanya.
Pembayarannya pun sudah direalisasikan dengan lancar. “Pengerjaan awal proyek tol yang masuk kawasan Rancakalong, mulai terlihat di lahan bekas permukiman dan pertanian,” jelasnya. Ditambahkan, pengerjaan dilakukan dengan menggunakan puluhan alat berat. “Bagian atasnya pun sedang dipadatkan dengan batu,” katanya. Tol Cisumdawu yang melintasi wilayahnya akan mendongkrak perkembangan wilayah. Untuk itu, pihaknya ikut mempersiapkan dan membenahi wilayahnya.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman (Puskim)
Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puslitbang Permukiman) merupakan salah satu dari empat pusat litbang di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pekerjaan Umum, yang diarahkan dalam merumuskan kebijakan penyelenggaraan infrastruktur di bidang permukiman.


Sebagai lembaga litbang, Pustlitbang Permukiman diharapkan mampu menghasilkan teknologi permukiman yang inovatif, aplikatif dan bermanfaat langsung bagi masyarakat melalui program-program litbang yang lebih diarahkan pada litbang terapan (80%), sedangkan selebihnya merupakan sains murni (20%).


Sejak berdirinya di tahun 1953 dengan nama Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan hingga saat ini, Puslitbang Permukinan telah banyak menghasilkan produk litbang berupa teknologi tepat guna serta standar, pedoman dan manual (SPM) bidang permukiman. Dengan produk teknologi terapan yang memiliki pangsa pasar yang luas, memungkinkan lembaga ini juga berperan sebagai katalisator penggerak dunia usaha industri konstruksi bidang permukiman melalui pemanfaatan teknologi hasil litbang.


Untuk terus meningkatkan kemanfaatan sumberdaya litbang dalam menunjang penyelenggaraan infrastruktur permukiman, upaya-upaya peningkatan terus dilakukan melalui program kegiatan yang dikembangkan dalam hal peningkatan kualitas litbang, upaya dilakukan melalui pengembangan sumber daya manusia dan fasilitas pada balai-balai teknis dan bidang-bidang penunjang yang disusun untuk memberikan gambaran tentang organisasi, sumberdaya litbang, produk litbang dan jenis layanan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam rangka penyelenggaraan infrastruktur permukiman.
Puskim Terapkan Teknologi Pemukiman di Daerah. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pekerjaan Umum (Balitbang PU) dan tiga pemerintah daerah (Pemda) menandatangani nota kesepahaman penerapan teknologi yang dihasilkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman (Puskim) untuk memenuhi kebutuhan  daerah.


Kesepakatan dijalin dengan Pemerintah Kabupaten Bengkayang (Kalimantan Barat), Pemerintah Kota Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), dan Pemerintah Provinsi Gorontalo. Penandatanganan dilakukan di Bandung, baru-baru ini oleh Kepala Badan Waskito Pandu dan Kepala Puskim Anita Firmanti sebagai perwakilan Balitbang PU. Sedangkan di pihak daerah, Bupati Bengkayang serta perwakilan dari BAPPEDA Kabupaten Bengkayang, Dinas Tata Ruang Kota Tanjung Pinang, dan Dinas PU Provinsi Gorontalo. Turut dijalin pula kerja sama dengan sektor swasta, yaitu PT Lafarge.
Masing-masing daerah mengadopsi teknologi yang berbeda. Hubungan partnership dengan Kabupaten Bengkayang yang berbatasan dengan Serawak, Malaysia bertujuan memperbaiki kondisi pemukiman di wilayah perbatasan. Kota Tanjung Pinang akan memanfaatkan teknologi pengolahan air limbah menjadi air minum.
Sedangkan Provinsi Gorontalo mengaplikasikan teknologi Puskim untuk pengembangan bahan bangunan dari sumber daya lokal. Anita mengatakan, Puskim sedang merintis supaya teknologi-teknologi yang telah dikembangkan bisa lebih banyak diaplikasikan di daerah.
“Salah satu contohnya, teknologi pengolahan air payau di Pulau Palue dan Semau, Nusa Tenggara Timur,” ujarnya.

No comments